Selasa, 12 Juli 2011

Gawat Janin

GAWAT JANIN

A.   Pengertian Gawat Janin
       Gawat janin adalah keadaan  ataupun reaksi ketika janin tidak memperoleh oksigen yang cukup. Gawat Janin dapat diketahui dari tanda - tanda sebagai berikut:
1.  frekuensi bunyi jantung janin kurang dari 120 x / menit atau lebih dari 160 x / menit
2.  berkurangnya gerakan janin ( janin normal bergerak lebih dari 10 kali per hari )
3. adanya air ketuban bercampur mekonium, warna kehijauan ( jika bayi lahir dengan letak kepala )

B.   Etiologi
Gawat janin dapat terjadi dalam persalinan karena:
1. Insufisiensi uteroplasenter akut (kurangnya aliran darah uterus-plasenta dalam waktu
    singkat)
1.      Aktivitas uterus yang berlebihan, hipertonik uterus, dapat dihubungkan dengan pemberian oksitosin.
2.      Hipotensi ibu, anestesi epidural, kompresi vena kava, posisi terlentang, perdarahan ibu.
3.      Solusio plasenta, abrupsio
4.      Plasenta previa dengan perdarahan
2. Insufisiensi uteroplasenter kronik (kurangnya aliran darah uterus-plasenta dalam waktu
    lama)
1.      Penyakit hipertensi
2.      Diabetes mellitus
3.      Isoimunisasi Rh
4.      Postmaturitas atau dismaturitas
3. Kompresi (penekanan) tali pusat.
4. Anestesi blok paraservikal

C. Perubahan yang Dicermati pada Gawat Janin
1.    Kelainan Denyut Jantung Janin (DJJ)
Adapun kelainan DJJ yang dimaksud, antara lain:
a.    DJJ normal dapat melambat sewaktu his, dan segera kembali normal setelah relaksasi.
b.    DJJ lambat (kurang dari 100 per menit selama >10 menit) saat tidak ada his, menunjukkan adanya gawat janin. Bradikardi dapat disebabkan karena hipotermi maternal, kompresi tali pusat janin( prolpas tali pusat, kompresi tali pusat secara lengkap atau intermiten), hipoksia atau asfiksia janin biasanya di dahului oleh pola DJJ yang tidak adekuat atau penurunan variabilitas. Variabilitas adalah salah satu cara penting untuk mengevaluasi status neurologi dan respon jantung normal. Variabilitas jangka pendek dapat dikaji secara lebih akurat dengan elektroda kult kepala janin internal. Variabilitas jangka panjang dapat dikaji dengan peralatan doppler. Variabilitas rata- rata menunjukkan bahwa sistem saraf otonom yag mengontrol DJJ, telah matang dan teroksigenasi dengan baik. Hilangnya variabilitas atau peningkatan variabilitas menunjukkan depresi sistem saraf otonom. Tanda variabilitas mungkin merupakan tanda awal terjadinya hipoksia ringan, tetapi biasanya berhubungan dengan PH normal.
c.    DJJ cepat (lebih dari 180 per menit) yang disertai takhikardi ibu bisa karena ibu demam, efek obat, hipertensi, amnionitis, dehidrasi maternal dan anomali jantung janin. Jika denyut jantung ibu normal, denyut jantung janin yang cepat sebaliknya dianggap sebagai tanda gawat janin.

2.  Mekonium
         Adanya mekonium pada cairan amnion lebih sering terlihat saat janin mencapai maturitas dan dengan sendirinya bukan merupakan tanda-tanda gawat janin. Sedikit mekonium tanpa dibarengi dengan kelainan pada denyut jantung janin merupakan suatu peringatan untuk pengawasan lebih lanjut. Mekonium kental merupakan tanda pengeluaran mekonium pada cairan amnion yang berkurang dan merupakan indikasi perlunya persalinan yang lebih cepat dan penanganan mekonium pada saluran napas atas neonatus untuk mencegah aspirasi mekonium. Pada presentasi sungsang, mekonium dikeluarkan pada saat persalinan akibat kompresi abdomen janin pada persalinan. Hal ini bukan merupakan tanda kegawatan kecuali jika hal ini terjadi pada awal kehamilan.

D.  Diagnosis
Diagnosis saat persalinan didasarkan pada denyut jantung janin yang abnormal. Diagnosis yang lebih pasti jika disertai oleh air ketuban hijau dan kental atau sedikit. Gawat janin dapat terjadi dalam persalinan karena partus lama, infus oksitosin, perdarahan, infeksi, insufisiensi plasenta, ibu yang diabetes, kehamilan pre dan posterm, ataupun prolapsus tali pusat. Hal ini harus segera dideteksi dan perlu penanganan segera.

E. Penanganan
·         Lakukan Manajemen:
~        Kaji tanda- tanda distress janin tambahan.
~        Periksa adanya prolaps tali pusat.
~        Kaji durasi bradikardi.
~        Kaji variabilitas.
~        Kaji adanya deselerasi lambat atau panjang.
~        Pastikan lama waktu persalinan yang diharapkan.
~        Ubah posisi maternal, jika diindikasikan.
~        Berikan O2  kepada ibu, jika diindikasikan.
~        Konsul, jika diindikasikan.
·         Jika denyut jantung janin tetap abnormal atau jika terdapat tanda- tanda lain gawat janin (mekonium kental pada cairan amniom), rencanakan persalinan:
~        Jika serviks telah berdilatasi dan kepala janin tidak lebih dari 1/5 di atas simfisis pubis atau bagian teratas reulang kepala janin pada station 0, lakukan persalinan dengan ekstraksi vakum atau forceps.
~        Jika serviks tidak berdilatasi penuh dan kepala janin berada lebih dari 1/5 diatas simfisis pubis atau bagian teratas tulang kepala janin berada di atas tulang kepala janin berada di atas station 0, lakukan persalinan dengan seksio sesaria.
·         Adanya mekonium disertai tanda distress janin akut seperti deselaerasi lambat persisten, deselerasi variable, hilangnya variabilitas dan takikardi atau pola sinusoidal merupakan indicator penting adanya distress janin yang memerlukan penanganan yang cepat. Maka dapat dilakukan beberapa teknik resusitasi intrauterin diantaranya adalah :
1. Memperbaiki sirkulasi darah di dalam rahim
Deselerasi lambat biasanya berhubungan dengan gangguan sirkulasi darah intervili. Tindakan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan ini diantaranya :
a. Posisi ibu :
 Semua pasien dengan dugaan gawat janin harus dibaringkan pada posisi miring.
b. Pemberian cairan:
Tidak jarang wanita dalam persalinan kurang intake per oral dalam waktu lama. Keadaan ini mengakibatkan kekurangan cairan tubuh secara total. Walaupun demikian keadaan pasien masih dapat dalam keadaan baik, nadi dan tekanan darah stabil. Stabilnya fungsi alat vital ibu ini mungkin dengan mengorbankan sirkulasi darah arteri uterina yang mengakibatkan gangguan sirkulasi janin. Bila ada tanda-tanda gawat janin, ibu perlu diberi cairan melalui infus. Bila infus sudah diberikan, perlu tetesan dipercepat. Pada janin dengan gambaran deselerasi lambat perlu diberi cairan substitusi seperti Ringer Laktat atau NaCl fisiologis untuk mengganti cairan intravaskuler yang hilang. Kadang-kadang cara ini dapat membantu memperbaiki sirkulasi uteroplasenter.
c. Relaksasi rahim:
Bila sedang dalam pemberian oksitosin drip, tindakannya adalah hentikan oksitosin drip, kemudian beri obat-obat tokolitik seperti : Ritodrin intravena atau terbutalin subkutan. Dengan mengurangi atau menghilangkan stress yang mungkin ditimbulkan oleh kontraksi rahim, diharapkan janin akan kembali ke keadaan normal. Kadang- kadang frekuensi kontraksi rahim terlalu banyak (lebih dari 5 kali kontraksi per 10 menit) sehingga sedikit waktu untuk janin mendapatkan oksigen dari sirkulasi uteroplasenter.

2. Memperbaiki sirkulasi darah tali pusat
Untuk memperbaiki deselerasi variabel yang berat perlu dikerjakan seluruh tindakan resusitasi pada kasus seperti gangguan sirkulasi darah uterus. Perlu perhatian khusus pada masalah:
1. Posisi ibu :  
Merubah posisi ibu dari tidur miring menjadi posisi Trendelenburg atau knee-chest.
2. Posisi kepala janin :
Bila sudah terjadi prolaps tali pusat, dapat diperbaiki dengan menekan kepala janin agar tidak menekan tali pusat, sampai saat operasi dilakukan. Beberapa kepustakaan tidak menganjurkannya, dengan alasan karena tali pusat dan kepala itu licin sehingga hasilnya diragukan dan tidak etis.
3. Memperbaiki oksigenasi janin
Meningkatkan oksigen yang dihisap ibu akan meningkatkan sedikit tekanan O2 darah janin. Mungkin hal ini menguntungkan bagi janin karena dengan sedikit peningkatan oksigen akan menghasilkan kadar oksigen darah janin yang relatif tinggi karena daya afinitas darah janin tinggi terhadap oksigen.

4. Memberikan infus cairan amnion
Dengan memberikan infus cairan melalui kanalis servikalis akan mengembangkan rongga rahim, dan akan mengurangi kompresi rahim terhadap tali pusat. (West dkk, 1993; Donn & Faix, 1996).
Hasil resusitasi intrauterin dinilai berdasarkan perubahan-perubahan atas parameter yang sebelumnya dipakai untuk memutuskan dilakukannya resusitasi intrauterin. Belum ada kesepakatan mengenai berapa lama resusitasi intrauterin dapat dilakukan, tetapi pada kasus-kasus gawat janin sebaiknya waktu antara ditegakkannya diagnosis gawat janin hingga dilakukannya operasi (decision to incision time) tidak melebihi 30 menit
·         Lakukan pemeriksaan akustik, kulit kepala atau stimulasi abdomen janin, jika tidak terjadi respon akselerasi, dapatkan sampel darah kulit kepala janin untuk uji PH..
·         Berikan terapi tokolitik disertai terbutalin 0,25 mg SC atau 0,125 sampai 0,25 mg IV, jika :
o   distress janin dikaitkan dengan hiperstimulasi uterus.
o   intervensi bedah tidak dapat ditunda atau dihindari.
·         Lakukan amnioinfusi jika terdapat kompresi tali.
·         Jika distress janin akut secara progesif menjadi buruk atau parah, lakukan persiapan untuk dilakukan bedah sesar.

DAFTAR PUSTAKA
Cuningham FG, Gant NF, Lenovo KJ dkk. Obstetri Williams. Edisi.21. Jakarta: EGC;
2004.